Gelombang Buruh “Merah” di Tugu Adipura, Desak Upah Layak dan Penghapusan Outsourcing

Berita27 Dilihat

Bandar Lampung – wartaoneindonesia.com, Ratusan buruh dari berbagai elemen memadati kawasan Tugu Adipura, Jumat (1/5/2026), dalam peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) di Bandar Lampung. Aksi ini menjadi panggung penyampaian aspirasi pekerja yang menuntut peningkatan kesejahteraan, termasuk upah layak dan penghapusan sistem kerja outsourcing.

Sejak pagi, kawasan pusat kota itu tampak “memerah” oleh atribut aksi. Spanduk, poster, dan bendera dikibarkan, berisi berbagai tuntutan buruh, mulai dari kenaikan upah yang dinilai belum memenuhi kebutuhan hidup layak hingga perlindungan tenaga kerja yang lebih kuat.

Tak hanya terpusat di Tugu Adipura, massa juga bergerak menuju Kantor DPRD Provinsi Lampung sebagai titik utama konsolidasi. Aksi berlangsung tertib dengan pengawalan aparat gabungan.

Koordinator Pusat Perjuangan Rakyat Lampung (PPRL), Yohanes Joko Purwanto, dalam orasinya menegaskan bahwa pemerintah harus lebih serius merespons kondisi buruh.
“Kami berharap pemerintah lebih serius memperhatikan kesejahteraan buruh dan memberikan kepastian kerja yang layak,” ujarnya di hadapan massa.

Suasana aksi semakin semarak saat perwakilan Konfederasi Serikat Buruh Seluruh Indonesia (KSBI) menyampaikan orasi yang membakar semangat solidaritas. Ia mengajak seluruh peserta untuk berdiri, mengangkat tangan kiri, dan mengibarkan bendera sebagai simbol persatuan.

“Hari ini adalah May Day. Ketika kita menyanyikan lagu Internasional, terbukti bahwa semangat buruh itu hidup di seluruh dunia. Tidak peduli di benua mana, dalam 24 jam ini semua merayakannya,” serunya lantang.

Ia juga menekankan bahwa perjuangan buruh tidak berdiri sendiri. Dalam aksi tersebut, terlihat kehadiran berbagai elemen masyarakat, mulai dari mahasiswa, petani, hingga aktivis, yang turut menyuarakan keresahan atas kondisi sosial dan ketenagakerjaan saat ini.

Dalam orasinya, ia turut menyinggung putusan Mahkamah Konstitusi terkait Undang-Undang Cipta Kerja, yang mewajibkan pemerintah menyusun regulasi ketenagakerjaan baru dalam waktu satu tahun. Namun, hingga kini hal tersebut dinilai belum terealisasi.

“Kita menuntut undang-undang ketenagakerjaan yang baru yang benar-benar melibatkan serikat buruh. Tidak ada kata lain selain persatuan,” tegasnya.

Aksi juga dihadiri oleh perwakilan Keluarga BEM Universitas Lampung, Aliansi Jurnalis Independen (AJI), serta sejumlah organisasi buruh lainnya. Seruan solidaritas lintas sektor terus digaungkan sepanjang aksi berlangsung.

Untuk memastikan keamanan, aparat kepolisian bersama instansi terkait mengawal jalannya unjuk rasa dengan pendekatan persuasif dan humanis. Hingga sore hari, aksi May Day di Bandar Lampung berlangsung aman, tertib, dan damai tanpa insiden berarti. (Wan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *