Perkuat Pertahanan Digital, Pelindo Regional 2 Panjang Gelar Awareness Ancaman Siber

Berita63 Dilihat

BANDAR LAMPUNG — wartaoneindonesia.com, Ancaman serangan siber tak lagi sekadar persoalan teknologi, tetapi telah menjadi risiko serius yang dapat mengganggu operasional perusahaan. Menyikapi ancaman tersebut, PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo Regional 2 Panjang memperkuat kesadaran keamanan digital melalui kegiatan Awareness Bahaya Serangan Siber di lingkungan kerja perusahaan.

Kegiatan yang digelar Kamis (29/10/2026) itu menjadi langkah Pelindo Regional 2 Panjang untuk membangun kewaspadaan kolektif terhadap berbagai modus kejahatan digital yang berpotensi menyasar sistem informasi, data perusahaan hingga keberlangsungan operasional kepelabuhanan.

Kegiatan tersebut menghadirkan Iptu Donal Afriansyah, S.H., M.H., Kanit 2 Subdit V Ditreskrimsus Polda Lampung sebagai narasumber.

Pelaksanaan kegiatan dipimpin General Manager Pelindo Regional 2 Panjang yang diwakili Manager Kepatuhan Bisnis, Weriyanto Febriyadi. Dalam sambutannya, Weriyanto menegaskan bahwa keamanan siber tidak cukup hanya mengandalkan sistem dan teknologi. Faktor manusia tetap menjadi salah satu mata rantai penting dalam mencegah terjadinya serangan digital.

“Kesadaran terhadap keamanan siber harus menjadi bagian dari budaya kerja perusahaan dan membutuhkan peran aktif seluruh pekerja.

Setiap individu memiliki peran penting dalam mencegah potensi kebocoran data maupun serangan siber, mulai dari menjaga kerahasiaan akun, berhati-hati terhadap pesan atau tautan mencurigakan, hingga memastikan informasi perusahaan digunakan dan disebarluaskan sesuai dengan ketentuan yang berlaku,” ujar Weriyanto.

Menurutnya, semakin masifnya pemanfaatan teknologi digital dalam aktivitas perusahaan juga berbanding lurus dengan meningkatnya potensi risiko keamanan informasi. Karena itu, kewaspadaan tidak boleh berhenti pada perangkat maupun sistem keamanan, tetapi harus menjadi kebiasaan seluruh pekerja.

Dalam pemaparannya, Iptu Donal Afriansyah mengingatkan peserta mengenai sejumlah modus serangan siber yang kerap memanfaatkan kelalaian pengguna. Ancaman tersebut antara lain phishing, pencurian data, penyalahgunaan akses, penyebaran perangkat lunak berbahaya (malware), hingga berbagai modus kejahatan digital lainnya.

Ancaman tersebut menjadi semakin relevan bagi sektor kepelabuhanan yang saat ini semakin bergantung pada sistem digital dalam menjalankan proses bisnis dan pelayanan kepada pengguna jasa.

“Dalam konteks kepelabuhanan, keamanan siber memiliki peran strategis karena penggunaan teknologi informasi semakin terintegrasi dalam mendukung proses bisnis dan pelayanan jasa kepelabuhanan. Gangguan terhadap sistem digital tidak hanya berpotensi menimbulkan risiko terhadap data perusahaan, tetapi juga dapat mempengaruhi kelancaran proses operasional dan kualitas pelayanan kepada pengguna jasa,” kata Donal.

Ia menekankan, literasi keamanan siber harus terus ditingkatkan agar pekerja mampu mengenali potensi ancaman sekaligus mengambil langkah pencegahan sebelum risiko berkembang menjadi gangguan yang lebih besar.

“Peningkatan literasi keamanan siber menjadi langkah penting dalam membangun lingkungan kerja yang lebih tangguh terhadap berbagai ancaman digital sekaligus mendukung penerapan tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance),” ujarnya.

Sesi pemaparan kemudian dilanjutkan dengan tanya jawab. Para peserta mendapat kesempatan menggali berbagai persoalan keamanan digital yang berpotensi terjadi dalam aktivitas kerja sehari-hari, termasuk langkah mitigasi yang dapat dilakukan untuk meminimalkan risiko.

Bagi Pelindo Regional 2 Panjang, penguatan kesadaran keamanan siber menjadi bagian penting dari transformasi digital perusahaan. Sebab, semakin terintegrasinya teknologi dalam operasional kepelabuhanan juga menuntut sistem pertahanan digital yang semakin kuat.

Melalui kegiatan tersebut, Pelindo Regional 2 Panjang menegaskan komitmennya membangun budaya sadar keamanan informasi di seluruh lini perusahaan. Kesadaran setiap pekerja diharapkan menjadi lapisan pertahanan awal dalam menghadapi ancaman siber sekaligus menjaga operasional kepelabuhanan tetap aman, andal dan berkelanjutan. (Wan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *